Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Kisah Guru TK Yang Tinggal di Gubuk Reyot
Mengajar adalah sebuah hobby dan cita-cita, Putri pasangan Anda (69) dan Heti (64) Yeri namanya dengan usia yang masih muda belia ini (27 tahun) meski hanya berpenghasilan Rp 350.000, Yeri setia mengabdikan diri sebagai guru TK. sudah delapan tahun menjadi guru di TK Pertiwi Bojong Loa, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung.
Sejak lulus dari SMA pada tahun 2006, dia memang berkeinginan untuk menjadi guru TK. Akhirnya, pada tahun 2007, dia mengabdikan dirinya menjadi seorang guru di TK Pertiwi Bojong Loa.
Menurut Yeri, keinginannya menjadi seorang guru TK itu bukan didasari tanpa alasan. Baginya, anak-anak kecil adalah makhluk yang lucu dan menggemaskan. Tak peduli seberapa nakalnya mereka, bagi dia, anak kecil adalah anugerah Tuhan yang harus selalu dibimbing dan disayangi.
"Abis dari lulus SMA 2006, saya memang pengin ngajar di TK karena memang saya suka sama anak-anak kecil. Mereka perlu dibimbing dan diberikan kasih sayang," kata Yeri, Rabu (4/3/2015).
Yeri tinggal di rumah yang tidak layak huni. Sebagian rumahnya telah menyatu dengan tanah, dan sebagian lagi juga terlihat sudah hampir ambruk. Atap-atap rumah yang seharusnya menjadi pelindung teriknya matahari dan hujan juga banyak berlubang. Kayu-kayu penyangga rumahnya juga telah keropos.
Yeri mengaku tak punya cukup uang untuk memperbaiki rumahnya. Penghasilannya sebagai guru TK hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk membagi sebagian rezeki hasil keringatnya kepada sang ibu.
Kalau saja pihak Penguasa di sebuah Daerah atau Negara punya kepedulian terhadap Pendidikan dan tingkat kesejahteraan pada pengelolanya, maka Yeri dan guru semacamnya pasti tidak akan dibiarkan bernasib seperti ini, minimal mereka di PNSkan.
Yeri di Bandung bukan hanya sendiri, masih banyak guru-guru di Pelosok Tanah Air yang bernasib seperti Yeri, tapi kapan Pemerintah ada perhatian dan operasi khusus bisa menemukan mereka dan memberinya sebuah harapan yang kemungkinan memang telah lama dinanti...? semoga saja adanya...!
Sumber : Kompas.com
Editor : Putri Tungga Dewi
Pemerintah : Buku Pelajaran Diganti dengan Tablet
JAKARTA, Star Berantas. Tiga Kementerian akan bekerja sama untuk meningkatkan taraf
pendidikan di daerah terdepan, terluar dan tertinggal (3T). yaitu Kementerian
Pendidikan Kebudayaan (Kemendikbud), Kementerian Komunikasi dan
Informatika (Kominfo), dan PT Telkom Indonesia.
Salah satu peningkatan layanan tersebut berupa peralihan dari buku pelajaran berbasis fisik menjadi buku eletronik atau e-book.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan mengungkapkan setidaknya saat ini ada sekitar 208.000 sekolah yang tersebar di seluruh Indonesia. Dari angka tersebut terdapat aktivitas dari 50 juta anak dan tiga juta guru yang setiap harinya mengajar.
"Proses belajar-mengajar ini memerlukan alat ajar seperti buku pelajaran, buku teks. Kita mendiskusikan tadi untuk ke depan akan menggunakan eletronik book yang kita sebut e-sabak," sebut Anies di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Rabu, 7 Januari 2015.
Anies menjelaskan Sabak itu merupakan alat yang sering digunakan oleh orangtua zaman dahulu, yakni media berupa papan yang kemudian dituliskan dengan kapur.
"Kita ke depan ingin menggunakan tablet sebagai alat untuk belajar-mengajar. Buku tulis tetap ada, tetapi buku teksnya menggunakan eletronik," kata Anies.
Lebih lanjut, Anies mengatakan, dengan penggunaan tablet sebagai pengganti buku teks dapat menekan biaya soal pendistribusian buku-buku pelajaran ke daerah terpencil.
"Selain itu juga kualitas yang dikirimkan kepada anak-anak tidak lagi dipengaruhi faktor lainnya, baik kertas, distribusi, dan kerumitan soal logistik," ungkapnya.
Namun disayangkan, Anies belum mau membeberkan mengenai anggaran dan kapan diimplementasikan program tersebut ke daerah-daerah yang dimaksud.
"Nanti ada rapat lanjutan, mudah-mudahan sudah ada informasi yang bisa kita berikan," ungkapnya. (ren)
Putri Tungga Dewi, dari VivaNews
Salah satu peningkatan layanan tersebut berupa peralihan dari buku pelajaran berbasis fisik menjadi buku eletronik atau e-book.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan mengungkapkan setidaknya saat ini ada sekitar 208.000 sekolah yang tersebar di seluruh Indonesia. Dari angka tersebut terdapat aktivitas dari 50 juta anak dan tiga juta guru yang setiap harinya mengajar.
"Proses belajar-mengajar ini memerlukan alat ajar seperti buku pelajaran, buku teks. Kita mendiskusikan tadi untuk ke depan akan menggunakan eletronik book yang kita sebut e-sabak," sebut Anies di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Rabu, 7 Januari 2015.
Anies menjelaskan Sabak itu merupakan alat yang sering digunakan oleh orangtua zaman dahulu, yakni media berupa papan yang kemudian dituliskan dengan kapur.
"Kita ke depan ingin menggunakan tablet sebagai alat untuk belajar-mengajar. Buku tulis tetap ada, tetapi buku teksnya menggunakan eletronik," kata Anies.
Lebih lanjut, Anies mengatakan, dengan penggunaan tablet sebagai pengganti buku teks dapat menekan biaya soal pendistribusian buku-buku pelajaran ke daerah terpencil.
"Selain itu juga kualitas yang dikirimkan kepada anak-anak tidak lagi dipengaruhi faktor lainnya, baik kertas, distribusi, dan kerumitan soal logistik," ungkapnya.
Namun disayangkan, Anies belum mau membeberkan mengenai anggaran dan kapan diimplementasikan program tersebut ke daerah-daerah yang dimaksud.
"Nanti ada rapat lanjutan, mudah-mudahan sudah ada informasi yang bisa kita berikan," ungkapnya. (ren)
Putri Tungga Dewi, dari VivaNews
Mendiknas Keberatan Soal Rencana Tes Keperawanan Siswi di Sekolah
Kalau Ternyata Tak Perawan, Terus Tak Boleh Sekolah?
STAR BERANTAS, JAKARTA. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh menolak rencana Dinas Pendidikan Kota Prabumulih, Sumatera Selatan, yang bakal membuat kebijakan melakukan tes keperawanan untuk siswi SMA sederajat. Nuh mempertanyakan tujuan dari kebijakan itu.
"Untuk apa? Kalau toh untuk mengetahui seseorang pernah
melakukan, mohon maaf, sehingga tidak perawan lagi, terus mau diapain?
Kalau sudah tahu bahwa dia telah melakukan itu, apakah tidak boleh
sekolah? Atau apa?" katanya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta,
Selasa (20/8/2013).
"Terus yang laki ada enggak tes keperjakaan? Ini untuk apa? Model-model gitu menimbulkan kontraproduktif. Kalau tujuannya untuk perbaikan, ada cara lain yang lebih mulia," lanjut Nuh.
Meski demikian, Nuh akan terlebih dulu memastikan kebenaran informasi tersebut. Jika benar, pihaknya akan mengirimkan surat edaran kepada seluruh dinas pendidikan untuk tidak membuat kebijakan yang melampaui prinsip yang berlaku umum.
Sebelumnya diberitakan, Disdik Kota Prabumulih, Sumatera Selatan, membuat rencana tes keperawanan untuk semua siswi sekolah di Prabumulih. Tes tersebut sebagai respons terhadap maraknya kasus siswi sekolah yang berbuat mesum, bahkan diduga melakoni praktik prostitusi.
"Kami tengah merencanakan ada tes keperawanan untuk siswi SMA sederajat. Dana tes itu kami ajukan untuk APBD 2014," kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Prabumulih HM Rasyid, Senin (19/8/2013).
Rasyid mengakui, rencana Disdik tersebut rentan disalahartikan dan bakal mendapat kecaman pelbagai pihak. Disdik juga sempat takut rencana kebijakan itu bakal dicap melanggar hak asasi para siswi.
"Masalah keperawanan adalah hak asasi setiap perempuan. Tapi, di sisi lain, kami berharap seluruh siswi tak terjerumus ke hal negatif. Karena itu, kami tetap mewacanakan kebijakan itu untuk digelar tahun depan," ujarnya.
Sumber : Kompas.com
Editor : Putri
"Terus yang laki ada enggak tes keperjakaan? Ini untuk apa? Model-model gitu menimbulkan kontraproduktif. Kalau tujuannya untuk perbaikan, ada cara lain yang lebih mulia," lanjut Nuh.
Meski demikian, Nuh akan terlebih dulu memastikan kebenaran informasi tersebut. Jika benar, pihaknya akan mengirimkan surat edaran kepada seluruh dinas pendidikan untuk tidak membuat kebijakan yang melampaui prinsip yang berlaku umum.
Sebelumnya diberitakan, Disdik Kota Prabumulih, Sumatera Selatan, membuat rencana tes keperawanan untuk semua siswi sekolah di Prabumulih. Tes tersebut sebagai respons terhadap maraknya kasus siswi sekolah yang berbuat mesum, bahkan diduga melakoni praktik prostitusi.
"Kami tengah merencanakan ada tes keperawanan untuk siswi SMA sederajat. Dana tes itu kami ajukan untuk APBD 2014," kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Prabumulih HM Rasyid, Senin (19/8/2013).
Rasyid mengakui, rencana Disdik tersebut rentan disalahartikan dan bakal mendapat kecaman pelbagai pihak. Disdik juga sempat takut rencana kebijakan itu bakal dicap melanggar hak asasi para siswi.
"Masalah keperawanan adalah hak asasi setiap perempuan. Tapi, di sisi lain, kami berharap seluruh siswi tak terjerumus ke hal negatif. Karena itu, kami tetap mewacanakan kebijakan itu untuk digelar tahun depan," ujarnya.
Sumber : Kompas.com
Editor : Putri
Kemenag Siap Bangun Madrasah di Kampung Tasripin
STAR BERANTAS, Jakarta. Menteri Agama
Suryadharma Ali menyambut Tasripin dan keluarganya di kantor Kementerian
Agama Jalan Lapangan Banteng 3-4 Jakarta Pusat, Kamis (25/4). Menag
membujuk bocah 12 tahun yang sempat menghidupi 3 adiknya untuk
melanjutkan pendidikan, bahkan siap membangun madrasah di lokasi tempat
tinggalnya.
“Kamu sekolah ya, bisa belajar rame-rame. Jangan cari duit dulu masih kecil, biar urusan bapaknya,” bujuk Suryadharma Ali kepada Tasripin. Ia datang didampingi sang ayah Kuswito (41), dan ketiga adiknya Dandi, Riyanti dan Daryo menerima bantuan ala kadarnya. “Bantuan ini jangan buat kawin lagi ya,” kata Menag kepada Kuswito.
Saat ini Tasripin berhenti bersekolah, sementara kedua adiknya Dandi dan Riyanti pun tidak melanjutkan sekolah karena malu sering diejek oleh teman-temannya. Hanya Daryo, adik terakhirnya yang masih bersekolah di PAUD.
Dulu saat sekolah dia harus menempuh jarak sekitar 3 kilometer untuk mencapai tempat sekolahnya, jalan berbatu dan perbukitan serta hutan harus dilalui dia setiap harinya. Maklum, Dusun Pesawahan, Desa Gununglurah, Kecamatan Cilongok berada di lereng kaki Gunung Slamet, kabupaten Banyumas, Jawa Tengah demgan jumlah penduduk 319 Jiwa dengan 187 rumah, Namun saat Menag meminta Tasripin melanjutkan pendidikan di asrama, bocah ini. bersikukuh tidak mau pisah dengan adik-adiknya.
Menag akhirnya menyatakan siap membangun madrasah di kampung Tasripin. “Kita support penuh untuk bangun MI dan MTs. Paling tidak tahun ini dibangun 12 lokal,” kata SDA sapaan akrab menteri. Menag mengatakan, saat ini telah tersedia tanah seluas 700 meter. “Saya minta 1500-2000 meter, tahun ajaran baru sudah bisa dipergunakan,” imbuh SDA.
Mengenai status madrasah itu, menurut Menag, biasanya kalau atas prakarsa yayasan bersatus swasta,. Tapi akan lebih baik kalau madrasah itu berstatus negeri, sehingga masalah opersional serta gaji guru ditanggung pemerintah. “Enak negeri, biaya perawatan, gaji guru gak masalah. Kalau memang siswa dari masyarakat miskin seluruhnya dikasih bea siswa,” kata Menag.
Muhammad Adib, Ketua Paguyuban Lembaga Masyarakat desan Hutan provinsi Jawa Tengah mengungkapkan, tempat tinggal Tasripin berada di kawasan hutan. Madrasah yang akan dibangun tidak harus gedung mewah, model madrasah alamiah. Tapi anak nyaman belajar disitu,” ujar pria asal Cilongok didampingi Indayatun (16), siswi PLK (Pendidikan Layanan Khusus) Boarding School Baturaden. (ks)
“Kamu sekolah ya, bisa belajar rame-rame. Jangan cari duit dulu masih kecil, biar urusan bapaknya,” bujuk Suryadharma Ali kepada Tasripin. Ia datang didampingi sang ayah Kuswito (41), dan ketiga adiknya Dandi, Riyanti dan Daryo menerima bantuan ala kadarnya. “Bantuan ini jangan buat kawin lagi ya,” kata Menag kepada Kuswito.
Saat ini Tasripin berhenti bersekolah, sementara kedua adiknya Dandi dan Riyanti pun tidak melanjutkan sekolah karena malu sering diejek oleh teman-temannya. Hanya Daryo, adik terakhirnya yang masih bersekolah di PAUD.
Dulu saat sekolah dia harus menempuh jarak sekitar 3 kilometer untuk mencapai tempat sekolahnya, jalan berbatu dan perbukitan serta hutan harus dilalui dia setiap harinya. Maklum, Dusun Pesawahan, Desa Gununglurah, Kecamatan Cilongok berada di lereng kaki Gunung Slamet, kabupaten Banyumas, Jawa Tengah demgan jumlah penduduk 319 Jiwa dengan 187 rumah, Namun saat Menag meminta Tasripin melanjutkan pendidikan di asrama, bocah ini. bersikukuh tidak mau pisah dengan adik-adiknya.
Menag akhirnya menyatakan siap membangun madrasah di kampung Tasripin. “Kita support penuh untuk bangun MI dan MTs. Paling tidak tahun ini dibangun 12 lokal,” kata SDA sapaan akrab menteri. Menag mengatakan, saat ini telah tersedia tanah seluas 700 meter. “Saya minta 1500-2000 meter, tahun ajaran baru sudah bisa dipergunakan,” imbuh SDA.
Mengenai status madrasah itu, menurut Menag, biasanya kalau atas prakarsa yayasan bersatus swasta,. Tapi akan lebih baik kalau madrasah itu berstatus negeri, sehingga masalah opersional serta gaji guru ditanggung pemerintah. “Enak negeri, biaya perawatan, gaji guru gak masalah. Kalau memang siswa dari masyarakat miskin seluruhnya dikasih bea siswa,” kata Menag.
Muhammad Adib, Ketua Paguyuban Lembaga Masyarakat desan Hutan provinsi Jawa Tengah mengungkapkan, tempat tinggal Tasripin berada di kawasan hutan. Madrasah yang akan dibangun tidak harus gedung mewah, model madrasah alamiah. Tapi anak nyaman belajar disitu,” ujar pria asal Cilongok didampingi Indayatun (16), siswi PLK (Pendidikan Layanan Khusus) Boarding School Baturaden. (ks)
Menag Pesan Buat Tasripin Dahulukan Sekolah
Tasripin yang dalam beberapa hari ramai diberitakan karena telah menjadi kepala keluarga dan menanggung beban saudarnya itu ketika ditinggal orangtuanya, Kuswito (41 tahun), yang bekerja di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat (Kalbar). Mengenakan sandal jepit, berbaju batik lusuh, ia bersama ketiga adiknya, diterima di ruang tamu Menteri Agama. Tasripin disambut pertanyaan para wartawan yang ingin mengetahui kesulitan yang dialami ketika ditinggal Puspito, orangtua kandungnya ketika bekerja di Ketapang.
Tasripin (13), dan ketiga adiknya: Dandi (7), Riyanti (6), dan Daryo terlihat malu ketika ditemui Menteri Agama Suryadharma Ali. Daryo, adiknya yang paling kecil lebih banyak menyembunyikan muka ke kursi. Sesekali ia memukul kakaknya, Riyanti dan Dandi. Ketiga adik Tasripin terlihat gembira, meski sulit diajak berkomunikasi dengan Suryadharma Ali. Suasana pertemuan Menteri Agama dan Tasripin dan ketiga adiknya itu, yang juga didampingi orangtuanya Puspito dan seorang pelajar dari sekolah Pendidikan Layanan Khusus (PLK), Batu Raden Barat, Desa Ketengger, Banyumas, Inda Yatul.
Menteri Agama Suryadharma Ali menanyakan kepada Tasripin tentang cita-citanya ke depan setelah berbagai pihak menaruh perhatian besar terhadap kesulitan yang dialaminya. Tasripin hanya mengatakan ingin menjadi guru, karena bisa memberikan pelajaran kepada orang lain. Tetapi ketika disampaikan oleh Menteri bahwa ia harus sekolah dan tinggal di asrama, Tasripin terlihat binggung.
Ia mengatakan, ingin sekolah tetapi tidak ingin meninggalkan kampung halamannya. Untuk itu, menteri lantas berpesan kepadanya agar mendahulukan sekolah. “Mencari duit belakangan,” kata Menteri Agama.
“Sekolah dulu kalau mau pintar, sekolah dulu jika ingin dapat bekerjaan bagus. Mau punya tustel kaya wartawan harus sekolah dulu,” kata Suryadharma Ali yang disambut riuh suara wartawan.
Mendirikan Madrasah
Di tengah pembicaraan hangat antara Menteri Agama Suryadharma Ali dan Tasripin dengan kedua orangtuanya, Puspito, tiba-tiba Muhammad Adib, dari Ketua Peguyuban Lembaga Masyarakat Desa Hutan Jawa Tengah, memberi penjelasan tentang nasib Tasripin dan anak-anak lainnya yang memiliki nasib serupa. Menteri pun menoleh kea rah Adib dan mendengarkan cerita nasib warga di kawasan desa Tasripin, yaitu Dusun Pesawahan, Desa Gunung Lurah, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jateng.
Menurut Adib, di desa itu ada 97 kepala keluarga (KK) atau 317 jiwa dengan 26 anak tak sekolah. Pihaknya memang sudah berencana akan membangun sekolah di atas lahan seluas 700 meter persegi. Tanah seluas itu 50 persennya adalah wakaf dari warga setempat. Pihaknya agar sekolah tersebut segera dapat direalisasikan, tetapi hingga kini masih banyak menghadapi kendala.
Desa itu memang terpencil. Nasib Tasripin diketahui banyak orang berawal dari pelajar sekolah Pendidikan Layanan Khusus (PLK), Batu Raden Barat, Desa Ketengger, Banyumas, Inda Yatul yang tengah menyusun karya tulis. Yatul menginventarisir data warga miskin, paling miskin dan orang kaya di kawasan itu. Dari hasil laporan karya tulis itulah diketahui Tasripin tengah menghadapi persoalan kesulitan hidup lantaran ditinggal orangtuanya bekerja ke Ketapang. Sedangkan ibunya Sutinah, menurut Pupito, wafat setahun lalu.
Menteri Agama Suryadharma Ali, yang saat itu didampingi Dirjen Pendis Nur Syam, Direktur Pendidikan Madrasah Ace Saefuddin, Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemenag, Zubaedi dan staf khusus menteri, Budi Setiawan, minta kepada Nur syam agar kesulitan yang dialami warga di desa Tasripin tinggal segera diatasi. Khususnya yang menyangkut pendirian sekolah, sementara untuk Tasripin dan adik-adiknya diberikan bantuan jangka pendek. Tak disebutkan berupa apa bantuan yang dimaksud.
Menurut Menteri Agama, pihaknya telah menerjunkan stafnya di Banyumas untuk melihat kondisi desa Tasripin. Ia berencana akan membangun madrasah, tentu areal lahannya harus diperluas sampai 2.000 meter persegi, dengan 12 lokal untuk madrasah aliyah, tsanawiyah dan ibtidaiyah. Ia berharap madrasah itu bersatus negeri sehingga ke depan dari segi pembiayaan baik untk guru dan perawatan gedung tak mengalami kesulitan. Dengan cara itu, tentu pendidikan di sana bisa berkelanjutan dan bila perlu anaka-anaknya pun diberi bea siswa.
Ia menjelaskan, pada Juni 2013 madrasah di sana sudah mulai dibangun. Sementara pendidikan harus berjalan meski memiliki ruang belajar sederhana. “Kita punya anggaran untuk pendidikan. Karena itu masyarakat setempat pun bisa memberikan dukungan,” pinta Suryadharma Ali.(ant/ess)
Pengamat : Ujian Nasional Sejarah Buruk Pendidikan
STAR BERANTAS, Makassar.Pengamat pendidikan asal Universitas Muhammadiyah
Makassar, Arqam Azikin, MSi mengatakan, penundaan Ujian Nasional tingkat SLTA
dengan alasan kendala teknis menjadi sejarah buruk pendidikan dan harus
dievaluasi secepatnya. "Ini merupakan momen terburuk sepanjang
pemberlakuan UN, karena itu sebaiknya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
dievaluasi kinerjanya oleh Presiden, kalau perlu Mendikbud mundur," kata Arqam
di Makassar, Selasa.
"UN bukan satu-satunya yang dapat menjadi indikator kualitas pendidikan.
Bahkan justeru UN tampaknya menjadi momok dan bumerang bagi siswa-siswa di
tingkat sekolah dasar dan lanjutan," katanya.
Sementara itu, mengenai alasan keterlambatan pendistribusian soal ke 11 provinsi di Indonesia, sehingga UN tingkat SLTA diundur, di mengatakan, harusnya meminta pertanggungjawaban Mendikbud Mohammad Nuh.
Alasannya, anggaran pendidikan yang dialokasikan sebanyak 20 persen dari APBN tidak sepatutnya pihak Kemendikbud teledor dengan urusan yang sangat penting ini bagi proses pendidikan bangsa."Sebaiknya Mendikbud mundur sebagai pertanggungjawaban moral kepada rakyat Indonesia atau presiden segera mencopot menterinya, karena ini sudah kesalahan fatal," katanya.
Seperti yang dilansir ANTARA sebelumnya, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Laode Ida juga mendesak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh untuk mundur dari jabatannya sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kisruh pelaksanaan Ujian Nasional 2013.
Menurut dia, Presiden SBY sendiri seharusnya segera memberi sanksi kepada yang bersangkutan, sebab jika tetap mempertahankannya maka akan terkesan bahwa pihak SBY memperoleh keuntungan atau terlibat dengan proyek pencetakan kertas berisi soal UN itu. ( KB.Antara/ Suriani Mappong)
Editor : Putri
Dia mengatakan, pemerintah sudah saatnya mengkaji ulang perlu tidaknya UN
diadakan dengan mempertimbangkan kompetensi masing-masing siswa dan fasilitas
sekolah yang dimiliki di wilayah perkotaan dan daerah. Menurut dia, UN yang menggunakan
soal yang disusun dan didistribusikan Kemendikbud, cenderung menggunakan
standar siswa yang berada di wilayah perkotaan, misalnya Jakarta yang memiliki
fasilitas sekolah yang lengkap dibandingkan sekolah-sekolah yang berada di
daerah, apalagi di wilayah terpencil.
Sementara itu, mengenai alasan keterlambatan pendistribusian soal ke 11 provinsi di Indonesia, sehingga UN tingkat SLTA diundur, di mengatakan, harusnya meminta pertanggungjawaban Mendikbud Mohammad Nuh.
Alasannya, anggaran pendidikan yang dialokasikan sebanyak 20 persen dari APBN tidak sepatutnya pihak Kemendikbud teledor dengan urusan yang sangat penting ini bagi proses pendidikan bangsa."Sebaiknya Mendikbud mundur sebagai pertanggungjawaban moral kepada rakyat Indonesia atau presiden segera mencopot menterinya, karena ini sudah kesalahan fatal," katanya.
Seperti yang dilansir ANTARA sebelumnya, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Laode Ida juga mendesak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh untuk mundur dari jabatannya sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kisruh pelaksanaan Ujian Nasional 2013.
Menurut dia, Presiden SBY sendiri seharusnya segera memberi sanksi kepada yang bersangkutan, sebab jika tetap mempertahankannya maka akan terkesan bahwa pihak SBY memperoleh keuntungan atau terlibat dengan proyek pencetakan kertas berisi soal UN itu. ( KB.Antara/ Suriani Mappong)
Editor : Putri
Pengusaha Turki Janji Bangun Sekolah di Indonesia
"Kami sangat serius untuk mengembangkan dan memajukan bisnis kami di Indonesia dan semuanya harus dimulai dari pendidikan yang bermutu agar menciptakan pengusaha-pengusaha yang bermoral dan bermartabat," tegas Ahamet Beyaz dalam pertemuannya dengan Jusuf Kalla di Istanbul Turki, Kamis.
Media Officer Jusuf Kalla, Husain Abdullah mengaku dalam pertemuan mantan Wakil Presiden dengan Presiden Bank Asya Ahamet Beyaz sebagai bagian dari lawatan Jusuf Kalla ke Turki. JK juga diundang memberikan ceramah tentang perdamaian Asia Tenggara di Universitas Fatih, Istanbul Turki.
Dalam pertemuan kedua tokoh itu, baik JK maupun Ahamet Beyaz yang mempunyai latar belakang pengusaha itu sangat merespon peningkatkan kerja sama antara RI-Turki dengan membangun sebuah pondisi yang baik melalui kerja sama pendidikan.
"Pendidikan yang baik menjadi modal dasar untuk membangun kekuatan baru karena kemajuan suatu bangsa juga tidak terlepas dari pendidikan. Maka dari itu, kami sepakat akan memulai kerja sama ini dari pendidikan, perdagangan dan industri. Kerja sama perdagangan dan ekonomi dapat ditingkatkan lewat generasi muda terdidik dan bermoral," katanya.
Ahamet Beyaz mengaku pembangunan sekolah-sekolah bermutu juga sudah dilakukan dibeberapa negara lain karena masyarakat Turki saat perhatian dengan dunia pendidikan, apalagi para pengusahanya memulai kerja sama dari pendidikan.
Menanggapi niat baik pengusaha Turki itu, JK yang didampingi putranya Solihin Jusuf Kalla, menyatakan jika segala rencana besar perlu didasari dengan pengembangan sebuah lembaga pendidikan sebagai patokan karena dari sanalah pengusaha-pengusaha muda yang baik, jujur dan bermoral akan lahir.
"Banyak yang dapat dikerjasamakan dengan Turki, hanya saja informasi antarkedua negara terbatas sehingga kurang saling mengenal. Lewat pendidikan bisa menjadi jembatan meningkatkan hubungan itu," kata JK.
Khusus di bidang ekonomi, RI-Turki memungkinkan dilakukan kerja sama karena Turki memiliki teknologi dan modal Eropa. Sedangkan selama ini teknologi yang menyerbu Indonesia justru kebanyakan dari Cina.
Di bidang perdagangan, Turki yang butuh sumber daya tentu dapat meningkatkan perdagangannya bahkan Turki dapat menjadi pintu gerbang Indonesia untuk masuk ke Eropa.
Solihin Jusuf Kalla yang mendampingi ayahnya dalam pertemuan tersebut mengaku sangat terkesan dengan visi para pengusaha Turki. Mereka mengembangkan sebuah proyek nurani untuk menjadi pengusaha yang tangguh dan menjadikan Turki sebagai negara terkemuka ekonomi saat ini di Eropa.
"Selama saya di Turki, saya banyak mendapat pelajaran penting dan semua pengusaha-pengusaha di Turki mampu menerapkan ilmu pendidikan dengan agama sehingga melahirkan prilaku bisnis bermoral menjadi gerakan kaum muda di Turki," katanya.
Menurut dia, gerakan bisnis kaum muda Turki yang berlandaskan moral ini patut ditiru untuk para pengusaha-pengusaha di Indonesia. Jika metode itu mampu diterapkan, ucap dia, semua akan dituai setelah beberapa tahun kemudian. ( KB. Antara )
Editor : Putri
Kurikulum 2013 : Waktu Sekolah SD Tambah 10 Jam
JAKARTA, STAR BERANTAS. Jakarta:Pengurangan jumlah mata pelajaran dalam kurikulum
SD maupun SMP 2013 bukannya mengurangi waktu belajar siswa di sekolah.
Justru lama pelajaran akan bertambah rata-rata empat jam sampai enam
jam.
Siswa SD nanti belajar di sekolahnya kurang lebih 36 jam per pekan.
Bertambah sepuluh jam dari saat ini yang hanya 26 jam per pekan. Siswa
SMP yang selama ini belajar 32 jam di sekolah kini belajar 38 jam per
pekan. Adapun siswa SMA relatif sama dan tak ada perubahan signifikan.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M. Nuh mengatakan masih membuka masukan atas kurikulum barunya.
»Itulah tujuan uji publik baik melalui sosialisasi seperti ini maupun
saran yang kita tampung di website kami," kata M. Nuh dalam Sosialisasi dan Uji Publik Kurikulum 2013
dihadapan puluhan Kepala Dinas Pendidikan se Jawa Timur dan Lembaga
Penjamin Mutu Pendidikan di Hotel Garden Palace Hotel, Surabaya.
Berdasarkan kurikulum baru, siswa SMP akan mendapat sepuluh mata
pelajaran dari semula 12 mata pelajaran. Mata pelajaran muatan lokal dan
pengembangan diri akan melebur dalam seni budaya dan prakarya.
Adapun siswa SD yang semula mendapat 10 mata pelajaran berkurang
menjadi enam mata pelajaran, yakni matematika, bahasa Indonesia,
pendidikan agama, pendidikan jasmani dan kesehatan, pendidikan pancasila
dan kewarganegaraan, dan kesenian. IPA dan IPS menjadi tematik di
pelajaran lainnya.
Langganan:
Postingan (Atom)


